Rabu, 06 Juli 2011

ELEGI lanjutan part 4

LANJUTAN PART 4

~~ELEGI~~


“Tapi…tapi keputusan lo itu salah,Pe. Lo gak mesti nyuruh gue sama kepin pacaran. Dan lo tau, kepin itu bahagianya disisi lo bkan sama gue.lagi pula gue sama kepin itu sahabat. Dari kecil. Gak bisa kalo sekarang mesti dipaksa pacaran,. Lagian kepin bener, kematian itu gakbisa diprediksi kapan dan pada saat kita lagi ngapain. Siapa tau aja gue yang mati duluan kan? Jangan pernah lo ngomongin kematian lagi…” jelas Shasha.

“iya,Pe. Kepin sama shasha bener. Mending lo buang jauh-jauh ketakutan lo sama yang namanya kematian. Percaya deh keajaiban itu pasti ada. Lo jangan sampe putus doa minta ada orang baik hati yang mau donorin hatinya buat lo. Jadi jangan pernah putus asa.  Semangat Ipe!!!” seru Dindin tersenyum.

“thanks temen-temen J tapi itu permintaan terakhir gue. Gue mohon. Gue janji kalo kalian pacaran gue bakalan usaha buat sembuh. Gue mohon please…”  ucap ipe dengan nada memohon. Berharap permohonannya dapat dikabulkan.

Kesulitan hidup adalah memikirkan bagaimana caranya untuk bertahan hidup. Menentukan pilihan terbaik. Menjaga perasaan orang lain. Dan bersikap untuk tidak egois. 7 jalan pilihan. Satu jalan satu pilihan yang mesti diambil. Percayakan pilihan itu pada keinginan hati. Karena hanya pada kata hati pilihan itu akan terasa membuat lega dak takkan menyesal dikemudian hari.

Keputusan sulit bagi Ipe. Melepas orang yang ia saying demi kebahagiaan cowok itu. Tak ingin cowok itu menderita. Dan Ipe harus melepaskan cowok itu kepada sahabatnya sendiri. Sungguh bukannya egois, tapi ia ingin permintaan “terakhirnya” ini dapat dikabulkan.

Pilihan yang sulit. Disatu sisi kepin saying Ipe. Disatu sisi kepin juga benci Ipe. Benci kenapa? Kata-katanya. Ucapannya. Seluruh omongannya yang membuat ia benci. Kata-kata “KEMATIAN”     lah yang ia benci. Ketraumaan pada masa lau membuatnya benci kata-kata itu.

Pilihan yang sangat sulit juga. Kepin sahabat kecilnya. Ipe juga sahabatnya. Tapi permintaan itu memberatkannya. Permintaan dimana dirinya harus pacaran denagn Kepin. Orang yang sudah dijadikannya sahabat 14 tahun lalu. Tapi, jika permintaan itu tak diindahkannya. Mungkin ia akan menyesal seumur hidupnya.

“ini gak beratkan? Kalian mau pacaran Cuma seminggu juga gapapa kok. Tapi kalo emang kalian gak mau. Gue gak masalah. Mungkin gue bakalan dunia ini dengan gak tenang.” Ucap Ipe lirih. Bahkan seperti bisikan. Penyakit ini. Penyakit yang membuat semangat hidup Ipe menurun drastis.

Kepin menghela napas berat. “ oke. Kalo ini emang kemauan kamu. Tapi inget Cuma seminggu gak lebih” ucap kepin tandas.

“apa? Kok gitu sih?” Tanya shasha kaget.

“lo gak mau? Kalo sama Dindin boleh gak Pe?” Tanya Kepin pada Ipe.

“ha? Kok sama gue?” Tanya Dindin bingung.

“pin, aku kan nyuruhnya sama shasha. Kok malah sama Dindin?” Tanya Ipe yang juga bingung.

“hhhh, lo mau gak sha? Mau gak mau harus mau. Ini permintaan cewek gue.” Ucap kepin agak kesal.

“okelah. Seminggu ya? Gak lebih dari seminggu!!” ucap shasha terpaksa. Sangat terpaksa.

“makasih temen-temen. Kalian gak pulang? Ini udah malem loh. Ntar besok terlamabt kesekolah lagi..” ipe tersenyum senang. Meski hati sakit. Ia tak peduli. Asalkan cowok yang ia sangat sayangi bahagia. Cowok ini tersenyum maka ia akan tersenyum. Karena cowok inilah pusat kebahagiaanya saat ini.

“besok kan libur Pe. Hehe dasar” jawab Dindin sembari tersenyum.

“eh iya lupa hehe” ipe tersenyum malu.

Elegy takkan pernah sirna. Selamanya akan tetap ada. Membuat setetes air keluar dari pelupuk mata. Nmun, sesudah itu pelangi muncul menandakan kemendungan hati telah pergi.

***
Esok kemudian di Asrama Sleketep terlihat seperti hari libur biasanya. Senin, pagi ini terlihat begitu cerah sete;lah menerima sms dari aping kemarin malam. Aping akan mengajaknya pergi. Dengan wajah berseri ia lompat dari tempat tidur, meraih handuk bergambar Bernard bear (?) dan langsung kekamar mandi.

Hatinya berbunga. Tak seperti biasanya. Yang slalu tertekan dengan ancaman-ancaman Alpin lewat telepon maupun sms. Sambil bersenandung, senin memulai aktivitasnya.

Dilain tempat. Aping tengah memikirkan sesuatu. Mondar-mandir dikamar asramanya. Lalu duduk dikasur sambil nonton tv. Meski fokusnya tak tercurah pada apa yang ditontonnya. Lalu menunduk. Mengacak-acak rambutnya. Berdiri lagi. Melakukan hal yang sama seperti tadi. Setelah merasa lelah Aping terduduk dilantai. Menghela napas. Dan berbisik dalam hati. Semoga rencna ini berhasil. Terdiam sejenak. Mengirimkan satu sms pada Senin. Dan berdiri bergegas mandi.

***
Dikamar si kembar 4, Panci, Panu, Panol, dan Tupai tengah asik mengobrol.

“heh somplak malu-maluin amit lo kemaren” ucap Panci sambil menekan remote memindahkan channel televisi.

“lo ngomong kesiapa? Kegue kah?” Tanya Panu sok-sokan. Sambil menunjuk kedirinya sendiri.

“gak usah ditunjuk dah tu idung. Pesek juga (-_-v)”  celetuk Panol. Tupai & panci cekikikan gak jelas.

“kalian juga pesek. Gak ush sok ngeledek dehh” gerutu panu kesal.

“HAHAHAHAHA”

“haha siapa lagi sih? Lo kemaren yang kayak bocah psikopat gara-gara aping ledekin lo”jawab panci enteng.

“hehehe iya juga sih._.v” ucap panu nyengir kuda (?).

“lo kayak depresi tau gak? Ngejar-ngejar cewek sampe segitunya. Kayak gak ada cewek lain selain Villa aja” cetus Tupai. Yang diangguki Panci & Panol.

“bener tuhh…”

“wess jagna salah. Kata Villa gue gak boleh nyerah. Gue harus ngeyakinin dia. Sampe dia yakin. Lagiankan Villa first love gue hahahaha” ucap panu sok dramatis.

“mmm…. Nu, gue kayaknya naksir deh sama Villa. Saingan yukkk!!” ucap Panci dengan tatapan ngeledek. Panol dan tupai tersenyum geli.

“mmm…. Aduhh gue huga kayaknya naksir deh sama Villa. Abis dia cantik sihhh” ledek panol. Yang berhasih membuat Panu terpancing.

“ehh gue juga naksir. Dia itu baiiik banget sama gueee” tambah tupai. Panu sudah cemberut. Merah padam diwajahnya terlihat kemarahan.

“wooyyyyy…. KABORRRRRRRRRRRRRRR!!!!!!!!!!!!!!!!!” teriak Panci, panol dan tupai langsung lari keluar kamar.

“asahafgaguesatetaurasalo KEMBARAN KEPARAT LO PADA!!!!!!!!!!!!!!!!!!!” teriak Panu jengkel.

***
Acar duduk dibalkon kamar. Memandang seluruh kawasan asrama dari lantai 3 tempat kamarnya berada. Diasrama ini acar satu kamar dengan Villa,Areng dan Chilla. Kawan SMP nya dulu.

“lo kalo gak siap ngadepin Panci mending gak usah deh” ucap Villa sambil duduk. Disebelah Acar. Areng dan Chilla duduk disofa depan acar & Villa.

“iya car. Gak ada gunanya” ujar Chilla.

“lo tau? Panci kayak gitu buat nutupin krhancurannya. Semua yang kita certain tentang panci itu Cuma topeng dia. Dia yang suka tawuran, suka bikin onar, suka bikin huru-hara sana-sini itu Cuma pelampiasan dia dari masalahnya yang lumayan besar. “ jelas areng panjang lebar.

“terus? Salah gue? Salah orang tua gue? Salah pembantu gue? Gue gak peduli. Udah ah gausah bahas dia lagi” ucap acar Sinis. Mengeluarkan handphonenya. Dan berpura-pura memainkannya.

“terserah lo”

Didalam hati acar menyesali perkataanya. Mungin panci punya masalah yang cukup besar makannya dia jadi seperti itu. Aduhhhh …. Tersiksa sendiri jadinya.

***
3 jam sudah Senin-Aping berjalan-jalan diseitar taman kota. Bercanda bersama. Tertawa lepas. Melepas sejenak beban yang ada dipikiranyya.

“makan yukk!! Laper nih!!” ajak aping.

“makan apa?”

“mm… itu tuhh. Mau gak?” ucap aping sambil menunjuk kearah tukang soto.
***
UDAH YA ABANGNYA  MAU PULANG MAAF KALO JELEK UDAH GITU NGARET. SALAM GANTENG B)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar